Artikel ini merupakan versi terbaru dari yang sebelumnya diperbarui pada 31 Agustus 2022. Sejak itu, kami menambahkan analisis perkembangan terbaru di sektor ini dan pemain baru serta putaran pendanaannya.

Dua tahun belakangan ini merupakan periode yang sulit bagi pelaku industri buy now, pay later (BNPL) di Asia Tenggara. Meski jumlah investasi (yang diumumkan ke publik) untuk startup murni BNPL di kawasan ini pada 2023 bernilai lebih dari US$470 juta (Rp7,64 triliun), pendanaan pada tahun ini – per Mei 2024 – menurun menjadi hanya US$136 juta (Rp2,21 triliun), berdasarkan data Tech in Asia.

Jumlah perusahaan yang gagal, khususnya yang murni BNPL, kian meningkat. Beberapa contohnya adalah LatitudePay, Pace, dan Ablr yang telah berhenti beroperasi. Selain itu sejumlah perusahaan ritel dan fintech yang dulunya menawarkan BNPL kini telah menghentikan layanan itu.

LatitudePay, yang beroperasi di Singapura dan Malaysia, menutup usahanya pada bulan April. Perusahaan itu mengumumkan penutupan tersebut di laman resminya, tetapi tidak memberikan alasan di balik keputusannya itu.

Pace, yang telah menggalang pendanaan seri A lebih dari US$40 juta (Rp650,12 miliar) dan mengakuisisi Rely (pesaingnya), mengajukan likuidasi pada September lalu. Dalam dokumen pengadilan, perusahaan menyebutkan bahwa liabilitas yang dimilikinya adalah alasan di balik likuidasi tersebut.

Sementara itu, ShopBack yang berbasis di Singapura mengakuisisi Hoolah pada 2021 dan berencana memperluas cakupan layanan BNPL Hoolah ke ribuan merchant yang sudah tergabung di platform reward ShopBack.

Tetapi pada Maret ini, hampir dua tahun setelah peluncuran fitur tersebut, ShopBack berhenti mengoperasikan layanan BNPL miliknya yakni ShopBack PayLater, baik di Singapura dan Malaysia.

Di Vietnam, WowMelo, perusahaan BNPL yang dimiliki perusahaan pengembangan perangkat lunak lokal Fram, tampaknya juga nonaktif. Laman resmiya masih beroperasi, tetapi perusahaan itu belum membuat postingan di kanal media sosialnya sejak 2022. Fram tidak merespons pertanyaan dari Tech in Asia.

Ablr juga merupakan perusahaan lain yang tampaknya keluar. Per November 2023, perusahaan yang berbasis di Malaysia itu sedang dalam proses akreditasi sebagai perusahaan BNPL di Singapura, tetapi kemudian menarik diri.

Meski perusahaan itu tidak mengumumkan penutupannya secara resmi, catatan status di PitchBook menunjukkan bahwa perusahaan itu sudah “tidak beroperasi”. Laman resmi Ablr juga tidak dapat diakses.

Profil LinkedIn Amanda Chin, sang co-founder dan CEO, juga menunjukkan bahwa dia meninggalkan perusahaan itu pada Juni 2023. Sementara itu, co-founder Ian Ow telah menduduki posisi CEO di Abnk, perusahaan BNPL yang baru-baru ini juga memasuki pasar. Hingga artikel ini diterbitkan, Ow tidak dapat dimintai tanggapan.

Per April, empat penyedia layanan BNPL di Singapura telah menerima akreditasi dari Singapore Fintech Association dan BNPL Working Group: Abnk, Atome, Grab, dan SeaMoney (lengan fintech Sea Group).

Dua perusahaan lainnya juga telah beralih fokus ke tipe produk lainnya. EasyGroup (berbasis di Vietnam) kini berfokus menyediakan teknologi credit-scoring, ujar sang CEO Olivia Nguyen. Sementara itu, Split (berbasis di Malaysia) mulanya bergeser ke model save now, pay later pada 2022, kemudian beralih menawarkan solusi AI, menurut postingan LinkedIn dari sang founder Dylan Tan.

Para pemain bertahan

Dari 14 pemain murni BNPL yang kami pantau pada 2022, hanya enam yang masih beroperasi.

Fundiin (berbasis di Vietnam), TendoPay (berbasis di Filipina), AtomeHome Credit, dan Kredivo semuanya masih aktif. TendoPay diakuisisi oleh neobank Filipina Tonik pada 2022.

Paylater (berbasis di Malaysia) juga masih beroperasi, ujar founder Dexter Wong kepada Tech in Asia, meski postingan media sosial perusahaan belum diperbarui selama hampir dua tahun.

Menurut Atome Financial, induk perusahaan Atome, perusahaan itu tidak sekadar bertahan. Pada Q1/2024, perusahaan mengatakan bahwa pihaknya mencatatkan EBITDA positif. Pendapatan Atome di 2023 naik 130%, meski angka laba bersihnya tidak diungkapkan untuk tahun itu.

Alasan di balik pertumbuhan itu, menurut perusahaan, adalah ekspansi kemitraan dengan platform seperti TikTok, Shopee, dan perusahaan asuransi Chubb. Atome juga memperkenalkan produk baru, sepertiAtome PayLater Anywhere Card dan layanan pinjaman Atome Cash di Indonesia dan Filipina.

Setidaknya satu pemain baru diperkirakan akan muncul tahun ini.

Menyusul merger GoTo dengan TikTok Shop serta masuknya eks-CEO Atome David Chen, GoTo akan meluncurkan produk BNPL dalam beberapa bulan selanjutnya bersama TikTok.

Investor masih mencari jalan masuk

Salah satu kabar baik untuk sektor BNPL adalah, di antara perusahaan yang masih tersisa, kebanyakan telah berhasil menggalang dana.

Atome menggalang dana sebesar US$131 juta (Rp2,13 triliun) dalam dua putaran berbeda pada 2023 dan 2024.

Pada 2023, Kredivo Holdings, induk perusahaan Kredivo yang berbasis di Singapura, berhasil menggalang US$270 juta (Rp4,39 triliun) dari perusahaan Jepang Mizuho.

Home Credit juga menggalang US$100 juta (Rp1,63 triliun) dari MUFG pada 2023.

Perlu dicatat, beberapa investor terbesar di industri BNPL Asia Tenggara merupakan lembaga keuangan dari Jepang. Dalam dua tahun terakhir, MUFG dan Mizuho secara akumulatif menggelontorkan dana sejumlah US$570 juta (Rp9,26 triliun).

BNPL ritel dan fintech masih kuat

Perusahaan BNPL yang didukung oleh pemain ritel atau fintech yang mapan memiliki performa lebih baik dibandingkan pemain murni BNPL.

Tidak ada perusahaan di kategori ritel yang tutup.

Fe Credit (berbasis di Vietnam) dan lima perusahaan dari Indonesia (GojekIndodanaDana IndonesiaLinkAja, dan Traveloka) masih aktif.

Tetapi Shopee masih menjadi salah satu dari dua pemain BNPL ritel multipasar yang ada (satunya lagi adalah Grab) setelah ShopBack dan Fave dari Malaysia menghentikan layanan BNPL mereka.

Salah satu perusahaan yang kami pantau juga berganti kepemilikan: Castalo, anak perusahaan fintech Oriente (berbasis di Filipina), diakuisisi oleh Petal (perusahaan layanan keuangan berbasis di San Francisco, AS) pada bulan April.

Finmas, perusahaan Indonesia yang juga dimiliki Oriente, yang tutup pada April 2023, juga dilaporkan sedang mencari kepemilikan baru.

Sementara itu, UnaPay (berbasis di Filipina) telah mengalami rebranding menjadi UnaCash dan menawarkan layanan BNPL via aplikasi Android. Sebagai produk dari Digido Finance Corp, UnaCash menawarkan BNPL serta pinjaman pribadi lainnya.

Pendanaan untuk perusahaan yang didukung ritel dan fintech tidak seaktif sebelumnya, tetapi jumlah investasinya masih besar. Akulaku menggalang US$300 juta (Rp4,88 triliun) dalam dua putaran pendanaan, satu dari HSBC dan satunya dari MUFG.

Dana Indonesia memperoleh US$250 juta (Rp4,06 triliun) dari Sinar Mas Group, BillEase memperoleh US$5 juta (Rp81,27 miliar) dari Saison, dan LinkAja memperoleh pendanaan dari Mitsui (jumlahnya tidak diungkapkan).

Kami berharap, seiring kami terus memperbaruinya, basis data ini bisa menjadi referensi berguna bagi siapapun yang tertarik dengan industri BNPL Asia Tenggara.

Kamu juga bisa melihat laporan kami mengenai sektor ini di sini dan lebih banyak laporan lanskap di sini. Kami memaklumi bahwa data yang kami kumpulkan belum lengkap, untuk itu silakan hubungi research@techinasia.com untuk membantu kami melengkapinya.

Kredit
Data:  Scott Shuey
Grafis: Timmy Loen
Editor:  Melissa Goh and Jaclyn Tiu


Baca juga artikel lain seputar sektor finansial di sini.

Kurs US$1 = Rp16.253

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan di dalam Bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Mas Daffa Pratamadirdja sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Yustinus Andri)

RSS
Follow by Email
FbMessenger