Hai pembaca Tech in Asia Indonesia!

Bisnis perabotan rumah tangga sedang menunjukkan geliatnya. πŸͺ‘
Akuisisi Blibli terhadap Dekoruma di bulan Juni lalu menimbulkan pertanyaan orang; ada tren apakah yang sedang dibidik oleh mereka?

Baca tren apa yang sedang hangat di industri ritel dalam suguhan kami hari ini. Siapa tahu, ini bisa menjadi peluang ladang cuan bagi kamu berikutnya.

Selamat terinspirasi! ⬇ ⬇ ⬇


KONTEN EKSKLUSIF

Membaca tren bisnis ritel furnitur usai Blibli akuisisi Dekoruma

Bisnis ritel produk furnitur atau perabot rumah tangga di Indonesia menunjukkan prospek yang menarik, bahkan di tengah melemahnya sektor properti residensial.

Hal ini dibuktikan dengan langkah ekspansi yang dilakukan oleh sejumlah pelaku usaha, seperti Blibli yang mengakuisisi Dekoruma, Ace Hardware yang terus membuka gerai baru, dan Hero yang fokus pada bisnis IKEA.

Pertumbuhan bisnis ritel perabotan rumah tangga ini disokong oleh beberapa faktor, salah satunya gaya hidup masyarakat Indonesia yang menjadikan belanja produk rumah tangga sebagai bagian dari gaya hidup, khususnya di kalangan masyarakat perkotaan. Selain itu masih tingginya populasi muda di Indonesia yang membutuhkan perabotan rumah tangga juga menjadi faktor pendorongnya.

  • Daya tarik bisnis yang potensial
    Menurut Statista Market Insight, pendapatan dari sektor perabotan rumah tangga di Indonesia diperkirakan mencapai US$980 juta pada tahun 2024 dan terus bertumbuh hingga US$1,18 miliar pada tahun 2029.
  • Invasi tren omnichannel
    Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), konsumen saat ini menginginkan pengalaman berbelanja yang terintegrasi (omnichannel) antara pengalaman berbelanja online dan offline.
    Konsumen mungkin mencari inspirasi dengan mengunjungi gerai fisik, namun pada akhirnya mereka melakukan pembelian secara online. Oleh karena itu, para peritel perlu jeli melihat perubahan ini dengan cara memperbanyak gerai offline sembari mengoptimalkan platform online mereka.
  • Pemanfaatan teknologi untuk memperkaya experience belanja
    Para peritel perabotan rumah tangga bisa memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pengalaman berbelanja konsumen. Salah satunya lewat virtual reality (VR). Dengan VR, konsumen dapat secara virtual menempatkan perabotan yang akan mereka beli di rumahnya, sehingga mereka dapat lebih yakin dengan keputusan pembelian mereka

TLDR, dari artikel tersebut kamu memetik beberapa hal sebagai berikut:

  • Jika kamu seorang founder startup:
    • Kamu bisa melihat fenomena ini sebagai peluang untuk memperkenalkan produkmu yang bisa melengkapi upaya omnichannel di industri ritel. Seperti menawarkan gamification, teknologi AR/VR, dan lain-lain.
    • Brand-brand dengan citra yang kuat juga akan menyusun strategi direct to consumer-nya sendiri untuk kepentingan big data mereka, entah mengelola channel promosi secara mandiri atau membuat website e-commerce nya sendiri. Ini bisa menjadi kesempatan bagi startup enabler.
  • Jika kamu seorang investor:
    • Bisnis ritel perabotan rumah tangga di Indonesia menawarkan peluang menarik bagi investor yang jeli dan berani mengambil risiko. Dengan strategi yang tepat dan eksekusi yang baik, investor dapat meraih keuntungan yang signifikan dari bisnis ini. Kamu bisa:
      • Berinvestasi pada startup yang menawarkan solusi inovatif untuk kebutuhan omnichannel dan e-commerce enabler.
      • Mendorong value creation team untuk jeli mengakomodir peluang bisnis ritel O2O.

ARTIKEL PREMIUM LAINNYA

Startup agrifinance ini raup laba, namun belum bisa ekspansi ke Indonesia

Gudang Arya.ag / Sumber gambar: Arya.ag

Gambaran besarnya: Sebuah startup agritech asal India berhasil menemukan model bisnis yang sanggup membawa perusahaan menuju profitabilitas. Startup bernama Arya.ag ini menggabungkan layanan pembiayaan, pergudangan, platform perdagangan, serta implementasi bermacam teknologi agritech.

Kenapa ini penting: Petani di Asia Tenggara dan Selatan sering menghadapi kesulitan dalam memperoleh pinjaman. Akses terhadap kredit usaha yang terbatas membuat mereka terpaksa meminjam dari rentenir dengan bunga tinggi, yaitu 2 hingga 5 persen per bulan, dengan jaminan berupa tanaman atau lahan pertanian.
Situasi ini dianggap peluang bagi startup agrifinance seperti Arya yang kini membutuhkan akses terhadap pasar lebih luas lagi (dengan kata lain, ia butuh berekspansi ke luar negeri).

Masalahnya:

  • Meskipun model bisnis Arya.ag dianggap berhasil di India, namun rencana berekspansinya ke negara lain menimbulkan dilema tersendiri.
  • Setiap negara memiliki regulasi, infrastruktur, dan dinamika pasar berbeda yang akan memaksa Arya untuk beradaptasi.
  • Faktor edukasi, penilaian risiko kredit, pemeliharaan infrastruktur, dan lain-lain menjadi faktor pertimbangan yang membuat Arya was-was untuk berekspansi (terutama ke Indonesia).

Solusinya:  Mengatasi tantangan-tantangan ini membutuhkan strategi yang matang, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Artikel ini bisa menjadi cerita tentang betapa menantangnya upaya ekspansi regional.
Baca selengkapnya laporan kami di sini.


πŸ’‘ BRAINFOOD

β€œGreat minds discuss ideas; average minds discuss events; small minds discuss people.”

– Eleanor Roosevelt

  • Orang-orang hebat membicarakan ide dan gagasan. Mereka fokus pada pemikiran orisinal, solusi inovatif, dan konsep besar yang bisa membawa perubahan.
  • Orang-orang biasa membicarakan peristiwa. Mereka berbincang tentang kejadian aktual, berita terbaru, atau hal-hal yang sedang menjadi tren.
  • Orang-orang yang pikirannya sempit membicarakan orang lain. Mereka terjebak dalam gosip, rumor, dan mengurusi kehidupan orang lain.

Intinya, kutipan tersebut mendorong kita untuk fokus pada hal-hal yang lebih substansial dan bisa membawa kemajuan. Stay awesome founders!

KABAR LAIN

  • πŸ’° Startup D2C kecantikan ESQA dikabarkan raih US$4 juta
    Pendanaan yang diperoleh dari Unilever Ventures tersebut merupakan bagian dari putaran penggalangan dana Seri B.
  • Ninja Van lakukan PHK di tiga negara, termasuk Indonesia
    PHK ini merupakan gelombang kedua dari serangkaian upaya restrukturisasi yang dilakukan startup logistik asal Singapura tersebut sejak April 2024.
  • πŸš— InDrive optimis bisa kejar target di Malaysia
    Perusahaan taxi online tersebut menargetkan kemitraan driver sebesar 20,000 orang di akhir 2024.

Tech in Asia Indonesia ingin mengetahui insight dan opini kamu. Ayo sampaikan pendapat dan masukanmu via kolom komentar atau email ke ed@techinasia.com.

(Diedit oleh Rizqi Maulana)

RSS
Follow by Email
FbMessenger